(Indonesian) Rugby geek

Devoted to Jakarta Banteng Rugby Club (player/chairman), 7 caps for Indonesian national team "Rhinos", played wing and half-back, captain on 2007. Took the iRB referee lv.2 course and enjoy refereeing once a while. One of my goal is to promote rugby as a national sport in Indonesia. You might also find me in a social work-education field someday!
Recent Tweets @Fikri_MA
Posts I Like

asagemilang:

Mila:”request lagu?”

dennypeh:

If you have crazy rugby friends, you have everything

dennypeh:

If you have crazy rugby friends, you have everything

by ~Titan74 

We were 15 strong
Dirt on our faces
It couldnt be wrong
we all belong in these places
Bruises and blood
Laughing and cursing
with one solid kick, a flood
Enough practice, but no rehursing
Through the air took it and ran
the pain was not a care
There was no plan
Intstinct and guts
Hit the ground hard
Brothers to pull me out of the ruts
Rolled to my feet
Ran to rejoin the blitz
as fast as i could the ground my feet did beat
into the fray and the fits
courage and fortitude
bleeding together
raw emotion and attitude
that is gonna need more then one stich
Break my brother free
onlt to fall face down on the pitch
Let him score, they never see
The sky spin, and the run in
But it dont matter any
cause we know without one, there is none
And in the words of shakspeare
“For he today that sheds his blood with me shall be my brother”

Being a geek is all about being honest about what you enjoy and not being afraid to demonstrate that affection. It means never having to play it cool about how much you like something. It’s basically a license to proudly emote on a somewhat childish level rather than behave like a supposed adult. Being a geek is extremely liberating.” ~Simon Pegg

Pada 3 Desember 2011 kemarin, Shane Williams mengakhiri karir rugby internasional nya dengan Wales pada pertandingan melawan Australia. Wales kalah pada pertandingan itu namun Shane mengakhiri karirnya dengan try di menit akhir sehingga skor akhir pertandingan 24-18 untuk Australia. Jutaan orang menangis saat wawancara dia saat akhir pertandingan (termasuk saya). Shane Williams merupakan idola saya, dan saya dedikasikan tulisan singkat kali ini khusus untuk menghormati dia.

 

Shane Williams lahir pada 26 Februari 1977. Dengan tinggi badan yang cuma 170 cm dan berat 80 Kg, tidak pernah ada yang merasa dia mampu sukes di Rugby, namun ternyata dia berhasil bukan hanya sukses, tapi menjadi legenda di Wales dan Dunia.

Pada masa sekolah, Shane dianggap terlalu kecil untuk bermain rugby sehingga ia memilih extra kurikuler sepakbola. Shane bahkan sempat bermain untuk club sepakbola daerahnya hingga suatu saat dia diajak temannya untuk bermain Rugby untuk Amman United RFC dan pada game itu dia mencetak 5 try dan sadar bahwa dia memiliki bakat yang sangat besar di Rugby. Itulah mungkin awal kebangkitan semangat rugby Shane. Pada akhirnya Shane mengakhiri karirnya di tim nasional Wales, dia mencetak 58 try (290 poin) dari 85 pertandingan. WOW!! Shane menjadi pencetak try terbanyak untuk Wales, nomer tiga di dunia, meraih banyak sekali penghargaan termasuk International Rugby Board (IRB) Player of the year tahun 2008/2009!

Apa yang membikin Shane sangat spesial? Coba bayangkan anda sebagai pemain yang hanya 170 cm bermain rugby dengan pemain rugby yang rata rata 190 cm dan berat badan 95 Kg. Shane merupakan salah satu pemain terkecil di dunia Rugby Internasional.

Shane menangis saat menyanyikan lagu kebangsaan Wales terakhir kalinya. Dia terlihat sangat kecil diapit oleh Ryan Jones dan Scott Andrew

Keistimewaannya? Bukan hanya larinya sangat cepat, namun dia bisa merubah kecepatan dan arah larinya sehingga sulit sekali menangkapnya. Shane bahkan terlihat ‘menari’ melewati kerumunan permainan lawan. Terlihat dari jumlah try yang selalu ia cetak pada setiap pertandingan. Untuk Ospreys, club yang sudah ia bela dari tahun , dia sudah bermain 101 pertandingan dan mencetak 48 try (246 poin).

Salah satu momen fenomenal saat Shane Williams ‘terbang’ melewati lawan saat Ospreys vs London Irish, 15 Oktober 2010.

Buat saya, Shane merupakan figur yang selalu saya idolakan. Sampai sekarang saya selalu sampaikan argumen ‘Rugby tidak hanya untuk pemain berbadan besar, lihat Shane Williams’ kepada semua orang. Dari tahun 2005 saat saya mengenal Rugby, Shane selalu justifikasi saya untuk menjadi pemain yang lebih baik. Dari pertama kali melihat dia bermain di TV, mencari semua ‘tribute to Shane Williams’ di youtube, saya tak pernah berhenti mengagumi dia. Bahkan di blog saya sebelum ini masih membahas Shane Williams.

Apakah pensiunnya Shane Williams di Tim Nasional Wales berarti saya juga harus pensiun Rugby? Ah tentu saja tidak.. Shane pensiun di umur 34.. saya masih punya banyak waktu sebelum mencapai umur itu. Mungkin saya harus mencoba main untuk tim nasional lagi?

Hmmm.. Anyway, berikut clip mengharukan Shane Williams saat setelah game terakhirnya dengan Wales dan wawancara nya sambil menggendong dua anaknya yang masih kecil. Dengan Welsh accent nya dia menyebutkan betapa beratnya menyanyikan lagu kebangsaan Wales di lapangan terakhir kali.. dan menggunakan seragam tim nasional ini adalah ‘best feeling ever’ .

Terimakasih Shane Williams, dirimu telah menginspirasikan diriku dan juga jutaan pemain-rugby-bertubuh-kecil lainnya untuk mencoba mengalahkan dogma yang ada.. *menangis terharu*

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=TiXTIuY-xg8&w=560&h=315]

Selama satu bulan terakhir saya menyaksikan Rugby dimainkan di tingkat SMA. Dimulai dari pekenalan Rugby di SMA Santa Maria Surabaya pada tanggal 12 November kemarin, hingga turnamen Rugby sevens antar SMA di Jakarta selama tiga minggu berturut-turut: 12, 19 dan 26 November kemarin. Ada beberapa kesimpulan menarik yang saya bisa ambil setelah menyaksikan beberapa hal tersebut.

Perkenalan Rugby di Surabaya sudah di tulis oleh sahabat saya Tito  di website Jakarta Banteng Rugby Club. Hanya dengan satu jam kelas teori di kelas dan empat jam di lapangan, anak SMA Santa Maria Surabaya dan sekitar 12 pemain club Surabaya Rugby yang baru saja dibentuk langsung bisa mengerti permainan rugby dan langsung terlihat potensi yang sangat besar di mereka. Tito, saya dan Daniel yang membantu mereka saat itu yakin suatu saat Surabaya akan menjadi rival berat Jakarta Banteng Rugby Club.

Di lain cerita, pada turnamen Rugby Sevens antar SMA di Jakarta, club Brawijaya Bastards yang merupakan anak SMA Pangudi Luhur berhasil mendapatkan Juara Bowl (peringkat 5) di turnamen ini. Mereka berhasil mengalahkan sekolah sekolah internasional yang sudah berlatih atau mengenal Rugby sejak dulu. Brawijawa Bastards sendiri baru memulai latihan mereka sekitar dua bulan yang lalu dan mereka hanya berlatih sendiri di lapangan kecil yang kosong dengan dua bola rugby. Mereka cuma sempat berlatih dengan Jakarta Banteng sekitar 4 kali latihan dan setelah itu mereka terus latihan sendiri. Bagaimana mereka bisa menang? talents? luck? or else?

I personally think Indonesian have enormous potential in Rugby. Why?

Argumen pertama: Tidak seperti Sepak bola atau Bola Basket yang untuk dribble membutuhkan skill, Rugby dimainkan dengan bola digenggam atau dipeluk dan kita berlari dengan bola ini. Berlari merupakan dasar permainan Rugby. Kita tidak perlu belajar banyak hal untuk mulai bermain Rugby kan?

Salah satu pemain Rugby idola saya adalah Shane Williams, pemain Rugby Profesional yang membela tim nasional Wales. Dengan tinggi 170 Cm dan berat 80 Kg, Shane meraih permain terbaik dunia tahun 2008 yang dianugerahkan oleh International Rugby Board (IRB).

Di Rugby, Size does not matter, but speed does! – Orang Indonesia pasti cocok!

photo by: anne laure

Argumen kedua: Rugby bukanlah olahraga kekerasan dimana tubrukan keras diwajibkan dan menjadi inti permainan. Tujuan permainan rugby adalah mencapai poin sebanyak banyaknya dengan membawa bola ke garis terakhir pertahanan lawan. Caranya? kita harus menghindari lawan dan bekerjasama dengan team untuk berhasil membawa bola ini. Kita justru mencari cara untuk menghindari tackle musuh, bukan menabrak musuh! Apabila di American Football kita menyaksikan semua pemain terlihat ingin memakan pemain lawannya, di Rugby kita berjuang secara team untuk membawa bola ke garis musuh. Common goal  lebih penting daripada individual ego. Di Rugby, suatu permainan yang indah dan dihargai adalah saat melihat pemain berhasil meliuk-liuk ditengah kejaran musuhnya, bukan disaat mereka ‘terpaksa’ harus bertubrukan saat tackle terjadi.

Jadi permainan ini tidak untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang bisa menghindar dari kejaran musuh. Bola adalah median yang menandakan siapa yang harus dikejar. ingat, hanya si pembawa bola yang boleh di tackle. Jadi kalau punya badan besar bukan berarti punya bakat main rugby! justru yang kecil dan bisa lari kencang lah yang dibutuhkan dalam rugby! Siapa yang bisa menangkap pemain yang gesit ini?

photo by: anne laure

Inget permainan tradisional Gobak Sodor / Galasin / Galah asin? Seru kan menghindari teman yang bertugas menjaga garis nya? Apakah pemain bertubuh besar cocok bermain Galasin?

Pernah main kejar kejaran? seru kan saat dikejar teman atau mengejar teman? the thrill and excitement? Gampang kah mengejar pemain yang kecil dan gesit?

Cocok dong untuk orang Indonesia? :)

Argumen ketiga: Selain kerjasama team, Rugby menuntut disiplin yang sangat tinggi. Disaat permainan ini banyak terjadi benturan, dibutuhkan peraturan yang sangat tinggi untuk mengatur agar permainan tetap aman dan berlangsung lancar. Disaat olahraga lain diatur dengan peraturan (rules), Rugby memiliki hukum (laws) yang mengatur. Wasit memiliki wewenang penuh untuk mengatur jalannya pertandingan. Pemain yang boleh berbicara dengan wasit hanyalah kapten team dan itu juga harus meminta ijin terlebih dahulu. Berlebihan? saya rasa tidak.

Dengan disiplin yang sangat tinggi inilah pemain Rugby dididik. Disiplin dari latihan, pemanasan dan bahkan perilaku di dalam dan di luar lapangan. Disiplin ini juga didukung dengan rasa hormat (respect) yang tinggi terhadap semua pemain, dan juga kapten team sebagai pemimpin.

*One team, for one purpose..

On a personal note, I would like to add my story. Saya sudah mencoba banyak olahraga selama ini, dari team sports seperti Bola Basket, Sepak Bola, Volley hingga olahraga beladiri seperti Karate (Saya sabuk hitam DAN I), dan disiplin yang dituntut dalam Rugby merupakan penggabungan itu semua. Bayangkan team sports yang menuntut disiplin sangat tinggi seperti disiplin bela diri. Disiplin inilah yang saya rasa bagus sekali dikembangkan di anak Indonesia. Apabila mereka belajar pentingnya kerjasama team, didukung oleh disiplin yang tinggi, saya yakin hasilnya akan bagus sekali.

Penutup tulisan ini, sekaligus janji saya pribadi, adalah lebih giat lagi memasukkan Rugby ke sekolah sekolah Indonesia. Saya mengenal Rugby 7 tahun yang lalu dan merasa banyak sekali Rugby telah membantu saya mengenal hidup dan mengajarkan banyak hal ke saya. Seandainya banyak anak Indonesia yang mengenal Rugby dan kemudian hal ini merubah hidup mereka, saya akan senang sekali.

“Rugby is a gentlemen sports”  nuff said..

rollingmaul:

A fitting finale as Shane Williams retires from International rugby with one last try.

Farewell Shane Williams, one of the best wingers in the game. :)

Wales 18 - 24 Australia

Sabtu cerah, 12 November 2011 di Kota Pahlawan Surabaya… Di aula SMA St. Maria telah berkumpul puluhan siswa dengan mata penasaran tertuju pada layar yang sedang menunjukkan highlights video rugby.
Decak kagum terdengar ketika tackle terlihat & sorakan menggema ketika pemain di layar melakukan sidestep & runaway try…
Itulah suasana awal “Surabaya Rugby Workshop” yang diadakan Surabaya Rugby Club bekerjasama dengan Jakarta Banteng Rugby Club.

Setelah pemberian satu jam teori mengenai Rugby dari Fikri, Tito & Daniel serta sesi tanya jawab singkat, para peserta semakin antusias untuk mencoba Rugby karena sudah hilang salah paham bahwa Rugby hanya dapat dimainkan oleh orang berperawakan tinggi dan besar.

Workshop kemudian berpindah ke Lapangan Brawijaya dimana 54 siswa SMA St Maria ditambah sekitar selusin pemain Surabaya Rugby Club mengikuti teknik praktek passing, tackling, kicking, ruck & maul, scrum dan lineout. Sungguh bersemangat para peserta meskipun terik panas menyengat matahari Surabaya yang terkenal terus menemani!

Bagian acara yang ditunggu-tunggupun tiba… Pertandingan Rugby Tens antara para pesertapun berlangsung dengan sangat meriah diiringi sorak sorai mereka yang menonton.

Meskipun lebih bersifat pertandingan ‘coba-coba’ dimana wasit Daniel dan pelatih Fikri & Tito sering memberikan koreksi terhadap peraturan maupun teknik permainan, tetap saja terasa serunya suasana kompetitif namun sportif dari sebuah pertandingan rugby sungguhan! Tim ‘Tomo Joyo’ berhasil menang dengan unggul 2 try atas tim ‘Sanmar’ yang keduanya dicetak oleh bakat baru Rugby, Ade!

Pada pertandingan eksibisi di penghujung acara, Tim ‘Old Banteng Young Bulls’ juga berkesempatan main melawan ‘Surabaya Rugby’ dan pertandingan sengit berlangsung diantara kedua team. Kemenangan hari itu adalah milik Rugby Indonesia karena sejarah telah tercipta dimana Rugby pertama kali dimainkan di Bumi Surabaya..

“Kami terkejut juga bahwa peserta membludak begitu banyaknya,” kata Putu selaku Ketua Surabaya Rugby, “kami bagaikan mendapatkan semangat baru selain antusiasme luar biasa melihat anak-anak muda Surabaya berpartisipasi pada acara ini. Kita akan segera atur latihan rutin dan mengembangkan di kalangan SMA dan juga Universitas di Surabaya. Pantau terus perkembangan kami di twitter @SurabayaRugby! Terimakasih banyak Jakarta Banteng yang sudah mau datang untuk acara ini! Kami akan segera melaksanakan kunjungan balasan!”

“Jakarta Banteng sudah mengembangkan Rugby di Jakarta sejak beberapa tahun yang lalu. Terobosan baru kami tahuni ini adalah kami berani melangkah lebih jauh untuk membantu Surabaya Rugby.” sambung Fikri, “Kami sangat terkejut melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh Surabaya. Semua anak memilki potensi besar dan kita tidak akan kaget kalau dalam waktu dekat Surabaya Rugby akan menjadi rival berat Jakarta Banteng dalam turnamen Rugby di Indonesia!”

Maju terus Surabaya Rugby! Terimakasih telah mengundang JBRC… Mudah-mudahan kita dapat berjumpa lagi secepatnya!

Faces in the crowds: All Blacks vs France

love the haka and how France ‘accept’ the challenge.. :P

rollingmaul:

All Blacks 8 - 7 Les Bleus

ocd123gs:

LOVE

(via rollingmaul)

speedy recovery Quade!